4:47 pm - Senin Juli 23, 2018

Fakta Pembunuhan Salim Kancil

521 Viewed Dean
Salim Kancil

BukaFakta.com – Media sosial Indonesia sedang dikejutkan dengan tewasnya aktifis Salim Kancil, penolak tambang asal Lumajang, Jawa Timur yang mengenaskan.

Hari masih pagi. Suasana Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang juga masih tenang. Sabtu pukul 07.00 (26/9/2015), Tosan (51 tahun) ditemani saudaranya, Imam sudah berdiri di depan jalan rumahnya.

Keduanya membagi-bagikan selebaran kepada siapa saja yang lewat. Hanya setengah jam Tosan dan Imam membagi-bagi selebaran yang berisi ajakan menolak penambangan pasir di desanya itu.

Tiba-tiba pada pukul 07.30, sekitar 40 orang mengendarai kendaraan bermotor mendatangi Tosan dan Imam. Tanpa ba bi bu, massa yang membawa kayu, batu, batu, dan clurit ini langsung mengeroyok Tosan.

Achmad Zakky Qhufron yang melakukan investigasi kasus ini menuturkan, saat tiba di lokasi Imam sempat melerai. Namun karena jumlahnya banyak, keduanya melarikan diri berpencar.

Karena yang diincar Tosan, massa langsung memburu Tosan yang lari ke arah kebun. Nahas Tosan terjatuh. Massa pun langsung menganiaya. Ia dipukul dengan kayu.

Tak cukup. Mereka menelentangkan Tosan di tengah lapangan lalu melindasnya dengan motor berkali-kali. Tosan terluka parah. Pengeroyokan baru berhenti setelah seorang warga bernama Ridwan datang ke lokasi lalu menghentikan aksi biadab gerombolan itu.

Gerombolan ini rupanya langsung mendatangi target kedua yakni Salim Kancil (46). Salim yang pagi itu sedang asyik menimang cucunya yang berusia 5 tahun kaget. Mengetahui gelagat gerombolan itu tak baik, Salim langsung membawa cucunya masuk.

Begitu Salim keluar, gerombolan itu langsung mengikatnya dan menyeret Salim ke Balai Desa Awar-Awar yang letaknya 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.

Di Balai Desa, tanpa mengindahkan ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya.

Di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Karena terlihat taka da reaksi kesakitan apa pun dari Salim, gerombolan itu menggergaji leher Salim. Anehnya, seolah Salim tak mempan dengan siksaan itu.

Tak kapok, mereka lalu membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat ke tempat dekat makam yang ada di daerah itu. Di situ, dengan tangan masih terikat, Salim diminta berdiri dengan tangan di atas. Lalu mereka membacok perut salim tiga kali. Anehnya Salim tak tak tumbang. Bahkan luka pun tidak.

BACA JUGA :  Mark Zuckerberg Berbagi Foto bersama Bayi Perempuannya

Saking kesalnya, gerombolan itu lalu mengepruk Salim dengan batu yang mengakibatkan korban ambruk. Salim tewas.

Salim dan Tosan adalah dua warga yang selama ini menolak penambangan pasir yang ada di desanya. Kedua orang ini bersama 10 warga lainnya membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar. Forum inilah yang selama Januari lalu terus melakukan penolakan terhadap aktivitas penambangan pasir itu.

Rupanya ada yang kurang nyaman dengan aksi Salim dan kawan-kawannya itu.

***

Atas peristiwa ini kepolisian setempat telah menetapkan 22 orang sebagai tersangka. “19 orang sudah ditahan. Sedang dua orang tidak karena masuk kategori di bawah umur,” kata Komisaris Besar Polisi Raden Prabowo Argo Yuwono seperti dilansir suarasurabaya.net.

Ke-22 orang itu, menurut Raden, ada yang terlibat pengeroyokan, ada juga yang terlibat pengeroyokan dan pembunuhan.

Peristiwa ini juga membuat Gubernur Jawa Timur Soekarwo murka. Ia berencana mengaudit aktivitas tambang yang ada di wilayahnya. “Ini tragis sekali, karena itu kami akan tertibkan mana tambang pasir yang legal dan ilegal. Menurut saya tambang tersebut (Desa Selok Awar-awar) harus ditutup,” kata Soekarwo, seperti dilansir Metrotvnews.

Kasus ini juga sempat menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Menurut Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Teten Masduki, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengusut pelaku penganiayaan yang berujung hilangnya nyawa aktivis Salim Kancil di Lumajang, Jawa Timur.

Keganjilan Sidang Pembunuhan Salim Kancil

Menjelang pelaksanaan sidang putusan kasus pembunuhan dan pembantaian Salim Kancil dan Tosan pada Kamis 16 Juni 2016 di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Jawa Timur, ada lima fakta yang dinilai ganjil selama persidangan berlangsung.

Dari data yang diterima saat berbincang dengan Ketua Tim Pendamping Hukum Keluarga Salim Kancil dari LSM Laskar Hijau, Abdullah Al Kuds menjabarkan keenam keganjilan itu, yakni:

1. Pembeli Pasir Ilegal Tidak Pernah Muncul

Pria yang akrab disapa Gus Aak itu mengatakan, dari awal hingga menjelang akhir sidang pihak kejaksaan tidak pernah satupun membahas siapa orang yang membeli pasir ilegal tersebut dan ke mana larinya pasir-pasir tersebut. Ke dalam negeri kah atau ke luar negeri?

BACA JUGA :  Siapa sebenarnya Ferdinand Monoyer yang dijadikan Google Doodle hari ini?

“Yang paling terasa ganjal adalah nama pembeli pasir ilegal tersebut tidak pernah muncul di persidangan,” tutur Gus Aak kepada Liputan6.com melalui telepon selulernya, Rabu 15 Juni 2016.

2. Masih Banyak Pelaku Belum Ditangkap

Kepolisian beserta kejaksaan menetapkan 36 orang sebagai tersangka yang sudah diamankan terkait kasus pembunuhan dan pembantaian Salim Kancil dan Tosan, tapi jumlah tersangka tersebut sebenarnya masih kurang dan hanya setengahnya saja yang saat ini ditetapkan menjadi tersangka.

“Masih banyak pelaku yang belum ditangkap, masih sekitar 60 pelaku dan mereka saat ini masih berkeliaran di sekitar Desa Selok Awar-Awar. Kami juga sudah menanyakan kepada pihak yang berwenang, namun kesannya seperti tertutup dan kami sampai saat ini masih belum menerima jawabannya,” ucap Gus Aak.

3. Vonis Pelaku Remaja Diduga Diringankan

Dua pelaku remaja berinisial Abd dan Ils yang terlibat kasus pembunuhan aktivis tambang Salim Kancil akhirnya dihukum tiga tahun enam bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya.

“Vonis tersebut menjadi indikasi bahwa proses sidang berikutnya akan sama seperti itu. Tuntutannya tidak akan sesuai dan vonisnya juga tidak seperti yang kita harapkan atau dengan kata lain hukumannya akan ringan,” kata Gus Aak.

4. Pembunuhan Terjadi Spontan

Dalam sidang yang beragendakan pembacaan replik, delapan terdakwa pembunuhan Salim Kancil dan pengeroyokan Tosan di Ruang Cakra, meminta keringanan hukuman. Kedelapan terdakwa yang ditempatkan pada tiga berkas terpisah itu mengaku penganiayaan dan pembunuhan berlangsung spontan alias tanpa rencana.

“Jadi, bukan direncanakan jauh hari melakukan pengeroyokan itu,” kata penasihat hukum delapan terdakwa, Budi Setiono, beberapa waktu lalu.

5. Penambangan Pasir Terus Berlangsung

Saat menghadiri sidang lanjutan kasus pembantaian Salim Kancil, Tosan, korban penganiayaan warga pro-tambang pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar, mengungkapkan penambangan pasir masih berjalan di daerahnya, tetapi di titik galian yang berbeda.

Ia menuturkan, penambangan itu tidak lagi di pesisir pantai yang sempat ditentang Salim Kancil, tetapi berpindah ke sekitar aliran sungai. Tepatnya, mulai dari kawasan Bagu, Pronojiwo, dan Jambe.

“Kata Pak Bupati itu ndak apa-apa asalkan ada izinnya. Kalau yang pesisir pantai tidak ada. Jangankan menggunakan alat berat, dengan cangkul saja kalau saya tahu pasti saya usir,” kata Tosan pada 24 Maret 2016.

Don't miss the stories follow BukaFakta.com Berita Aktual Independen dan Terpercaya and let's be smart!
Kanal
Related posts